Rabu, 09 September 2009

MAHALNYA PEMILU KITA, BUKAN JAMINAN PERUBAHAN

Momentum PEMILU 2009 tinggal hitungan hari. Jalanan begitu riuh oleh orang-orang 'narsis' yang menganggap dirinya hebat. Baliho, Poster, Spanduk semrawut merusak pemandangan yang semuanya berubah menjadi sampah visual. Iklan televisi yang semuanya klaim kosong, menyerang calon pemilih untuk menetapkan niat agar memilihnya. Tontonan Srimulat Politik di pertunjukkan para pemain lama dengan saling serang, saling merusak karakter lawan. Intrik sana-intrik sini, sambit sana-sambit sini yang penting bisa mempengaruhi opini publik bahwa merekalah yang paling konsisten berjuang untuk rakyat.
Tontonan tidak cerdas+tidak mendidik ramai sekali di gelar seakan rakyat segera kenyang dengan wacana politik yang saling di lempar. Padahal sesungguhnya mereka belum melakukan apa-apa selain bagi-bagi kueh kekuasaan saat berada di sistem. Event 5 tahunan yang kita sebut PEMILU tak ubahnya hanya ajang perlombaan balapan untuk mencari pemenang siapa yang paling hebat mendulang suara. Praktis, semua pemain hanya mencari jalan termudah bagaimana supaya bisa memotong di tikungan dengan berbagai jalan. Mulai dari belanja iklan besar-besaran, seakan-akan semua akan tuntas den gan jalan termudah


Bagaimana supaya bisa memotong di tikungan dengan berbagai jalan. Mulai dari belanja iklan besar-besaran, seakan-akan semua akan tuntas dengan iklannya yang terus sambung-menyambung. Sama sekali tidak ada pendidikan politik bagi rakyat. Selain hanya bagaimana memobilisasi mereka agar 'menyontrengnya' di tanggal 9 April nanti agar bekal untuk meng-GOALkan kandidatnya untuk dapat merapat di Istana Negara. Padahal begitu mereka naik, tetap saja tunjangan gaji minta dinaikkan, Undang-Undang Pro Modal diperkenan melenggang kangkung sehingga mengorbankan hajat orang banyak. Sebut saja UU BHP. Ruang terdekat kita di dunia pendidikan yang terkorbankan. Bisa dipastikan, legalisasi UU ini hanya akan menjadikan keluaran produk pendidikan kita bermental Babu. Disusul hanrganya yang akan melambung tinggi di awang-awang. Lantaran Liberasi Sektor pendidikan masuk lewat legalisasi ini.
Tidak ada yang pernah mengupas secara tuntas persoalan-persoalan problem kerakyatan dari mereka yang hari ini beramai-ramai menghasut, merajuk, merayu konstituen untuk memilihnya. Kebanyakan Tidak ada dari mereka yang memiliki track-record pernah berbuat sesuatu di tingkat akar rumput. Turut mengadvokasi Problem masyarakat, ikut larut dalam sekian penderitaan rakyat.
SEMUANYA hanya membawa angan-angan besar seakan-akan satunya jalan perubahan adalah melalui mekanisme sistem. Keyakinan bahwa perubahan hanya bisa dilakukan melalui mekanisme perebutan kekuasaan tanpa melakukan pendidikan di tingkatan akarr rumput tak ubahnya hanya hendak melakukan pembodohan secara terus-menerus kepada rakyat.
Apakah ini yang dinamakan perubahan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar