Sabtu, 05 Februari 2011

Kemarau puisi di kampusku



/1/

alamak. di musim banjir ini, kampusku lagi kemarau, rupanya. tak ada lagi kyai yang menenggak jack daniel di kamar tidur guru besar. Hilang santri yang membopong sembilan pelacur masuk ke ruang kelas, lalu mencipok mereka satu per satu dengan mahaberahi, dan menselentik-selentik asyik pentil payudara mereka. Lelaki-lelaki ahli tahajjud yang mengucapkan “I love you” pada dosen jantannya entah nyelungsep ke mana.

Wah! hanya orang-orang waras boleh menghuni kampusku, rupanya. “Tapi, kami mau malam, mau malam,” seru camar dan manyar, dari pulau sebrang.


/2/

Sayang, coba sebentar lepas dekapmu padaku, dan berjalanlah ke pojok situ, tolong hidupkan lampu kamar ini. Eh, tagihan listrik bulan ini sudah kau lunasi belum?

Jogja, 3 februari 2011

Widodo. Pemuda dari Jambi dengan kegemaran mengabadikan kejadian-kejadian. Selain terlibat aktif di Organisasi Daerah, ia juga menyibukkan diri di Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi atau KMPD UIN Sunan Kalijaga. Paling suka minum kopi dan paling benci dengan pendusta.

Internasionalisasi Pendidikan; Sebab, Mekanisme, Dampak dan Alternatifnya



Oleh: Widodo
Mengapa pendidikan dewasa ini begitu mahal tetapi kualitasnya abal-abal?mengapa standarisasi pendidikan begitu getol dilakukan oleh kementrian pendidikan nasional?mengapa pertukaran pelajar antar Negara marak dilakukan di berbagai institusi negri maupun swasta? Rupanya ini semua adalah design besar Negara-negara maju terhadap Negara berkembang. Berikut penjelasannya:

Sebab
  1. Terjadinya surplus pengangguran terdidik di negara-negara utara. Ini mirip seperti sebab bagi berlangsungnya liberalisasi perdagangan pangan. Surplus pengangguran tersebut makin bertambah, terutama saat krisis ekonomi global 2008 di mana ratusan ribu orang di negara-negara utara kehilangan pekerjaan, dan ratusan ribu lulusan universitas terancam tak dapat pekerjaan yang layak. Maka, disusunlah strategi mengatasi surplus pengangguran terdidik tersebut. Ramai-ramai negara utara menyebarluaskan anjuran diadakannya internasionalisasi pendidikan intensif atau perdagangan bebas jasa pendidikan berskala internasional. Sebelumnya, konsepsi, konsensus, dan anjuran internasionalisasi pendidikan serta penerapannya telah berlangsung, namun belum begitu intensif. Krisis ekonomi global 2008 dan artifisialisasi isu global warming menjadikan negara-negara utara mengalihkan banyak anggaran nasionalnya guna menyelamatkan kelangsungan hidup korporasi multinasional, lewat pengucuran dana talangan atau nasionalisasi berbagai korporasi multanasional tersebut. Salah satu anggaran yang dialihkan demi kepentingan itu yakni anggaran di bidang pendidikan. Karena itu, pendidikan, khususnya pendidikan tinggi di negara-negara utara, menjadi barang yang amat mahal bagi para mahasiswanya yang berpendapatan dan berdaya beli rendah. Agar mahasiswa macam ini masih tetap bisa mengenyam pendidikan yang cukup layak, mereka diekspor ke negara-negara selatan melalui program exchange-student. Pembebanan biaya mahasiswa model ini diberatkan pada negara tujuan. Lepaslah tanggung jawab negara-negara utara memberi pendidikan bagi warga negeranya. Inilah misalnya, maksud terselubung Kerajaan Inggris menyelenggarakan konferensi “Going Global 4” tentang internasionalisasi pendidikan pada 26 Maret lalu. 
  2. Terkonsentrasi dan macetnya sirkulasi modal di negara-negara utara karena daya beli (kredit-moneteris) masyarakat negara-negara selatan kian rendah akibat tata-dunia yang timpang dan karena badai krisis ekonomi 2008 yang sampai kini belum juga reda. Untuk melancarkan kembali arus sirkulasi modal tersebut, diperlukan banyak kanal-kanal moneteris baru buat mengalirkan modal, di antaranya “kanal” internasionalisasi pendidikan, penangangan global warming, dan lain sebagainya. Dengan internasionalisasi pendidikan, di Indonesia dirumuskan sistem manajemen intitusi pendidikan yang memberi pintu bagi masuknya modal asing (BLU, BHMN, BHP, BUU) langsung ke target sasaran (kampus/institusi pendidikan lain) tanpa melalui administrasi lisensiasi dan izin berbelit dan lelet.
  3. Negara-negara utara berupaya menguasai dan memiliki hak kekayaan intelektual dengan pelaksanaan riset-riset strategis berkualifikasi internasional dan tindak lanjut pematenan hasil riset bagi negara-negara utara. Upaya tersebut bertujuan agar korporasi multinasional dapat memonopoli perekonomian domestik Indonesia.
  4.  Kuatnya gerakan paganisasi dan manstreamisasi budaya barat terhadap budaya timur. 
  5. Negara-negara industri maju berusaha mengembangkan korporasi multinasional, baik dengan mendirikan kartel industri pendidikan di negara-negara selatan, maupun penyiapan tenaga kerja murah semi-terdidik bagi korporasi multinasional di sektor manufaktur dan pengolahan industri primer.


Selain kelima faktor ini, masih banyak faktor lainnya. Sebagai catatan, tak hanya negara-negara utara yang ambisius terhadap pemberlakuan internasionalisasi pendidikan. Tapi, lawan-lawan ekonomi mereka, semisal Cina dan Jepang juga teramat bernafsu menerapkan internasionalisasi pendidikan, seperti terlalu bernafsunya mereka mengadakan perjanjian bilateral perdagangan bebas dengan negara-negara sedang berkembang.

Rabu, 09 September 2009

6 P Yang Penting Dalam Presentasi

P yang pertama Passion, passion (hasrat) merupakan hal penting dalam presentasi. Jika anda tidak memiliki antusiasme akan materi presentasi yang anda bawakan akan membuat presentasi anda menjadi tidak bernyawa dan membosankan. Tanpa adanya kecintaan dan hasrat dari hati anda untuk membawakan materi presentasi dengan baik maka kredibilitas anda sebagai presentator otomatis akan lenyap seketika.

P yang kedua Preparation, persiapan disini dalam artian menyeluruh mulai dari persiapan materi, mempelajari karakteristik audiens serta menyiapkan secara detil pendukung presentasi.