Apa yang kawan-kawan ketahui mengenai anti kemapanan? anak-anak punk di jalanan, penganut musik underground, atau orang-orang yang enggan berada pada situasi serba kecukupan?
banyak diantara kita yang selalu memahami secara salah kaprah dari sebuah definisi. Bahkan obrolan orang sekolahan sekalipun. Salah satunya yang kali ini akan dikupas bersama oleh Tjorong Post.
Mungkin sebagian dari kita mengartikan mapan dan anti kemapanan adalah sebatas pada wilayah dimana penguasaan materiil saja.Dalam kamus besar bahasa Indonesia pemaknaan kata mapan sendiri berarti pada mantap, (baik, tidak goyah, stabil)kedudukannya (kehidupannya).
Sejarah selalu mencatat banyak hal dimuka bumi mengenai kejayaan dari suatu bangsa dan sejurus beberapa lama kemudian disusul kehancurannya terganti kejayaan baru. Sejarahpun juga mengabarkan kepada kita bahwa di dunia ini tidak pernah ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.
Heraklitos, filsuf dari Yunani pernah berkata bahwa di muka bumi ini semuanya selalu bergerak. Selalu berubah, seperti air yang mengalir dari sebuah sungai. Kita tidak akan pernah menjumpai air yang sama saat duduk di tepinya.
Memilih Anti Kemapanan
Mapan yang dimaksud mengapa harus dirubuhkan disini adalah mengenai suatu kondisi dimana kebuntuan menyelimuti suatu hal. Status quo, anti perubahan, serta cenderung konsevatif atau mempertahankan hal lama yang tak layak dan justru menghambat kemajuan. Mapan sesungguhnya lebih sama dengan sebuah genangan air yang berkubang di suatu tempat. Sama sekali tidak mengalir alias diam di tempat. Kita dapat melihat secara kasat mata bahwa air yang menggenang di suatu tempat, biarpun itu air bersih, dari sudut kedokteran pun dapat dipastikan bahwa akan banyak dihuni oleh bibit penyakit. Sangat jauh berbeda dengan air yang terus mengalir.
Di lipatan masa lalu kita juga dapat menilik mengapa Aceh kemudian tunduk terhadap pemerintahan Kolonial yang hanya disebabkan oleh hal sepele yakni air wudhu masjid-masjid tidak boleh dialirkan tetapi dibiarkan tergenang.
Adalah Snouck Hurgonje. Seorang antropolog yang disusupkan Pemerintah Kolonial untuk menjadi ulama di aceh kala itu. Ketika melihat kekuatan rakyat Aceh yang tak mungkin bisa dilumpuhkan akhirnya oleh Snock disiasati cara licik dengan mengeluarkan tuah bahwa, air yang tergenang tanpa dialirkan akan lebih baik untuk sembahyang. Maka praktis setiap rakyat dengan mudahnya terkena berbagai macam penyakit sehingga mudah dilumpuhkan perlawanannya.
Change is the law of life. Begitu JF. Kennedy mengatakan. Perubahan itu hukum kehidupan. Mereka yang menentang perubahan akan digilas oleh keadaan. Seperti juga kampus kita. Beberapa waktu lalu saat input mata kuliah, kita saksikan bersama begitu banyak makian yang dialamatkan kepada birokrasi kita menganai pelayanan yang lambat, mengecewakan serta berbagai keluahan lain yang bisa kawan-kawan lihat lihat di pesan mahasiswa di media CBIS. Bisa dipastikan ketika keluh kesah mahasiswa tidak ditanggapi dan wadah tak bisa lagi menjadi penyalur aspirasi, melainkan hanya dibiarkan begitu saja, lambat tapi pasti kekecewaan yang terakumulasi akan berkumpul menjadi kemuakan dan berubah menjadi antipati. Maka, omongan miring mengenai pelayananan yang berujung kekecewaan terus bergumul menjadi boomerang menghantam intitusi ini. seseorang yang kecewa itu bisa saja memendam sendirian, tetapi begitu ia memiliki momentum yang tepat akan ia luapkan sangat amat buruk. Semisal, seseorang tadi mengatakan kepada khalayak calon konsumen jasa kampus ini (anak-anak SMA yang bingung mencari tempat kuliah) “kamu boleh kuliah dimana saja, tapi jangan di UPN karena hanya kecewa yang kau dapati”.
Bukankah ini pukulan telak bagi kampus? maka bila target mahasiswa menurun, tidak akan lagi ada pembaharuan mobil dinas seperti akhir tahun lalu, tidak ada lagi tunjangan bonus tambahan seperti biasanya, serta bagi mahasiswa senior tak ada lagi kesempatan untuk meng-ospek mahasiswa yang meluber-luber. Tidak ada lagi kaderisasi di organisasi, karena mahasiswanya sedikit. Bukankah yang rugi kita semua?
Itu dalam sekup kecil. Dalam sekup besar kita saksikan pergantian kejayaan silih berganti di bumi nusantara ini. mulai dari kejayaan Mataram Kuno, Sriwijaya, Singasari hingga Majapahit semua kemudian berakhir dengan satu hal. Mereka tak pernah mau berubah manakala kejayaan sudah digenggam. Ulasan Rheinald kasali misalnya melalui bukunya berjudul 'Change' berpendapat bahwa seharusnya setiap Negara, koorporasi juga organisasi sekalipun harus terus tidak berhenti manakala telah berada pada satu kejayaan. Justru saat kejayaan itu digenggam segeralah untuk berubah, menata dan terus merasa anti kemapanan. Ibarat sebuah pendakian digunung, kita merasa begitu berat saat menanjak untuk sampai di puncak. Tetapi begitu mudahnya saat kita meluncur untuk turun dari atas puncak gunung? Selalu bekerja keras untuk tidak mapan. Selalu menyesuaikan denga situasi. Itu artinya kita telah menjadikan diri kita sebagai penganut anti kemapanan. Dan perubahan adalah mutlak[rg]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar