Pijakkan bumi menggantung harap
Dari rasa yang tercabik masa
Atau riak cipta terkubur kembali
Hei! Jelma satria
Perangkan jutaan harap yang tersimpuh dipundakmu
Dari mereka yang hampir mati nuraninya,
Tergerus asanya, terhempas jiwanya
Oleh jiwa tikus yang menelan janji
Namun tak memuntahkannya kembali
Yang kemudian, menaringkan elegy batin dari tiap mereka yang tak berdaya, lalu akibatnya?
Penjilat hipokrisi yang meminta kita menipu di satu dua kepala
Merendus bau kotoran dari padanya, menelan air kencing dari tiap nistanya
Ah! Sudah! Tusuk saja nadinya,
Riwayat akhir dari tiap katanya debu
Bangunlah kembali mimpi dini hari
Terpatri raga teruntuk pertiwi
Ngristal dalam nyata, bersenandung nyanyian rakyat
Kalian. Dia. Mereka. Kamu melahirkan raya
Akan keseluruhan pergolakan dari kaum minoritas
Terangkum dasyat dalam harmonisasi jiwa
Sebab,
Kutahu hebat tekadmu
Kuyakin perdulimu
Senantiasa menyusun mozaik perlawanan
Merajut yang tidak hanya temali persekawanan dua, melainkan sejuta.
Jogja, 20 Desember 08
Karya: Aisyah Nur Utami
Puisi ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan hebatku yang tak pernah lelah berjuang! Hanya goresan pena ini saja yang dapat kuberi, salamKu untuk semua!!!
Aisyah Nur Utami
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2007. Saat ini aktif bergiat di KOIN(kajian Organisasi Internasional)Puisi ini dibacakan saat MILAD KOMIK IV (Komunitas Mahasiswa Kritis UPN)
Karya: Aisyah Nur Utami
Puisi ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan hebatku yang tak pernah lelah berjuang! Hanya goresan pena ini saja yang dapat kuberi, salamKu untuk semua!!!
Aisyah Nur Utami
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2007. Saat ini aktif bergiat di KOIN(kajian Organisasi Internasional)Puisi ini dibacakan saat MILAD KOMIK IV (Komunitas Mahasiswa Kritis UPN)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar